Rabu, 14 Januari 2009

Kurangnya Respon Pemerintah Terhadap Perkembangan Hasil Penelitian di Indonesia

Setiap tahunnya jumlah penduduk kita semakin bertambah. Pertambahan jumlah penduduk ini akan berbanding lurus dengan jumlah kebutuhan bahan pangan. Namun jika kita melihat bagaimana hebatnya konversi lahan pertanian di negara kita maka pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan patut kita pertanyakan. Rasanya sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan jika semakin lama luas lahan pertanian kita semakin terdegradasi baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Sejenak kita melihat suatu strategi perang yang jitu yang biasanya dipakai untuk melumpuhkan suatu negara. ” Jika kita ingin melumpuhkan suatu negara, maka lumpuhkanlah suplai makanannya”. Kurang lebih begitulah bunyinya. Kalau kita pahami makna dari kalimat tersebut, maka berdasarkan fakta yang terjadi kondisi alam secara tidak langsung menerapkan strategi perang seperti yang disebutkan.

Menyikapi hal itu perguruan tinggi dan beberapa pihak yang terkait jauh-jauh hari telah mengembangkan penelitian di bidang pertanian untuk mengantisipasinya. Mulai dari perbaikan mutu benih yang digunakan, pengembangan alat dan mesin pertanian yang dipakai, peningkatan kualitas hasil pertanian,teknik pengolahan tanah yang digunakan, peningkatan proteksi terhadap hama dan penyakit yang menyerang, sampai dengan hal yang berhubungan dengan sosial ekonomi pertanian pun telah dilakukan.

Namun pihak lain yang lebih berperan besar dalam meningkatkan ketahanan pangan seperti ini adalah Sang Pangambil Kebijakan (Goverment). Fakta menunjukan apa yang telah kita lakukan agaknya dipandang sebelah mata. Rekomendasi-rekomendasi yang telah kita berikan berdasarkan penelitian yang telah teruji sampai saat ini jauh dari kata-kata terealisasi. Lalu untuk apa penelitian yang telah kita lakukan kalau tidak ada kontribusinya....?

Seyogyanya respon pemerintah harus sensitif terhadap perkembangan hasil penelitian yang telah dilakukan. Sebab rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu penelitian adalah berdasarkan ilmu pengetahuan bukan berdasarkan kepentingan politik. ”Ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita”


Mahasiswa Teknologi Pertanian

Universitas Sriwijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar