Harusnya MUI memfatwa haram caleg mengumbar janji kepada rakyat. Bukan rakyat yang jadi korban.Memilih itu kan hak bagi siapapun termasuk umat islam.Kalau diharamkan, memilih hukumnya berubah menjadi wajib..jadi bagi umat islam bukan "GUNAKAN HAK PILIHMU", TAPI "GUNAKAN KEWAJIBAN PILIHMU". MUI sudah terlalu JAUH mencampuri urusan pribadi, dan ini beraroma politis. Lihat apa yang terjadi sekarang.Banyak orang yang sudah tidak terlalu respek dengan fatwa MUI. Fatwa haram rokok saja banyak yang tidak digubris. Apalagi fatwa haram golput. Kalau ternyata dalam pemilihan nanti orang malah banyak golput. Apakah MUI akan mengeluarkan FATWA baru.Kita tunggu sama-sama jawabannya. Ini hanya sekedar masukan buat MUI.
Rabu, 25 Maret 2009
MUI harusnya memfatwa Caleg bukan RAKYAT
Harusnya MUI memfatwa haram caleg mengumbar janji kepada rakyat. Bukan rakyat yang jadi korban.Memilih itu kan hak bagi siapapun termasuk umat islam.Kalau diharamkan, memilih hukumnya berubah menjadi wajib..jadi bagi umat islam bukan "GUNAKAN HAK PILIHMU", TAPI "GUNAKAN KEWAJIBAN PILIHMU". MUI sudah terlalu JAUH mencampuri urusan pribadi, dan ini beraroma politis. Lihat apa yang terjadi sekarang.Banyak orang yang sudah tidak terlalu respek dengan fatwa MUI. Fatwa haram rokok saja banyak yang tidak digubris. Apalagi fatwa haram golput. Kalau ternyata dalam pemilihan nanti orang malah banyak golput. Apakah MUI akan mengeluarkan FATWA baru.Kita tunggu sama-sama jawabannya. Ini hanya sekedar masukan buat MUI.
Rabu, 14 Januari 2009
Kurangnya Respon Pemerintah Terhadap Perkembangan Hasil Penelitian di Indonesia
Setiap tahunnya jumlah penduduk kita semakin bertambah. Pertambahan jumlah penduduk ini akan berbanding lurus dengan jumlah kebutuhan bahan pangan. Namun jika kita melihat bagaimana hebatnya konversi lahan pertanian di negara kita maka pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan patut kita pertanyakan. Rasanya sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan jika semakin lama luas lahan pertanian kita semakin terdegradasi baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Sejenak kita melihat suatu strategi perang yang jitu yang biasanya dipakai untuk melumpuhkan suatu negara. ” Jika kita ingin melumpuhkan suatu negara, maka lumpuhkanlah suplai makanannya”. Kurang lebih begitulah bunyinya. Kalau kita pahami makna dari kalimat tersebut, maka berdasarkan fakta yang terjadi kondisi alam secara tidak langsung menerapkan strategi perang seperti yang disebutkan.
Menyikapi hal itu perguruan tinggi dan beberapa pihak yang terkait jauh-jauh hari telah mengembangkan penelitian di bidang pertanian untuk mengantisipasinya. Mulai dari perbaikan mutu benih yang digunakan, pengembangan alat dan mesin pertanian yang dipakai, peningkatan kualitas hasil pertanian,teknik pengolahan tanah yang digunakan, peningkatan proteksi terhadap hama dan penyakit yang menyerang, sampai dengan hal yang berhubungan dengan sosial ekonomi pertanian pun telah dilakukan.
Namun pihak lain yang lebih berperan besar dalam meningkatkan ketahanan pangan seperti ini adalah Sang Pangambil Kebijakan (Goverment). Fakta menunjukan apa yang telah kita lakukan agaknya dipandang sebelah mata. Rekomendasi-rekomendasi yang telah kita berikan berdasarkan penelitian yang telah teruji sampai saat ini jauh dari kata-kata terealisasi. Lalu untuk apa penelitian yang telah kita lakukan kalau tidak ada kontribusinya....?
Seyogyanya respon pemerintah harus sensitif terhadap perkembangan hasil penelitian yang telah dilakukan. Sebab rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu penelitian adalah berdasarkan ilmu pengetahuan bukan berdasarkan kepentingan politik. ”Ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita”
Mahasiswa Teknologi Pertanian
Universitas Sriwijaya
Selasa, 13 Januari 2009
MAKALAH PERMODELAN
MODEL DASAR PENENTUAN WAKTU PENGANGKATAN PADA PROSES PENGGORENGAN KRIPIK DENGAN JARINGAN SARAF BUATAN
Oleh:
Ulung Pamungkas
Program Studi Teknik Pertanian
Jurusan Teknologi Pertanian
Universitas Sriwijaya
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dewasa ini banyak sekali permasalahan-permasalahan dari segala macam disiplin ilmu yang dapat dipecahkan dengan menggunakan pemrograman komputer konvensional yang menggunakan pendekatan algoritma (perhitungan logaritma).Dimana dengan sekumpulan perintah yang diberikan kepada system maka komputer akan dapat memecahkan permasalahan yang ada.
Namun banyak juga permasalahan yang tidak dapat dipecahkan dengan pemrograman konvensional. Terutama pada masalah-masalah yang tidak tetap. Artinya ketika terdapat permasalahan dan perintah tersebut tidak terdapat pada system maka komputer tidak akan dapat memecahkan masalah tersebut.
Sekarang ini terdapat suatu model yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Yaitu dengan menggunakan Artificial Neural Network (Jaringan Saraf Buatan). Jaringan saraf buatan adalah suatu jaringan saraf tiruan yang dibangun untuk meniru cara kerja otak manusia.
Dibidang Pertanian seperti yang kita ketahui bahwasannya banyak sekali kendala-kendala atau masalah yang terjadi, terutama pada fase pengolahan bahan pertanian.Beranjak dari sinilah maka penulis beranggapan bahwa aplikasi mengenai jaringan saraf buatan perlu diterapkan. Agar permasalahan yang sifatnya tidak tetap dan tidak dapat dipecahkan dengan komputer konvensional dapat kita pecahkan.
Tujuan
Dapat menerapkan aplikasi jaringan saraf buatan untuk memecahkan permasalahan di bidang pertanian terutama pada fase pengolahan bahan.
Batasan Masalah
- Penulisan hanya dilakukan untuk skala pengetahuan umum mengenai jaringan saraf buatan pada fase pengolahan bahan
- Penulisan tidak dilakukan pada cara pemrogramannya ke dalam system komputer
PEMBAHASAN
Jaringan Saraf Buatan
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwasannya jaringan saraf buatan adalah suatu jaringan saraf tiruan yang dibangun untuk meniru cara kerja otak manusia. Otak terdiri dari sekitar (10.000.000.000) sel syaraf yang saling berhubungan. Sel syaraf mempunyai cabang struktur input (dendrites), sebuah inti sel dan percabangan struktur output (axon). Axon dari sebuah sel terhubung dengan dendrites yang lain melalui sebuah synapse. Ketika sebuah sel syaraf aktif, kemudian menimbulkan suatu signal electrochemical pada axon. Signal ini melewati synapses menuju ke sel syaraf yang lain. Sebuah sel syaraf lain akan mendapatkan signal jika memenuhi batasan tertentu yang sering disebut dengan nilai ambang atau (threshold).
Gambaran mengenai cara kerja sel saraf buatan adalah sbb:

sumber: www.matakuliah.com
Dengan jaringan saraf tiruan maka kita dapat memberikan semacam kecerdasan pada sistem, dimana system tersebut akan diberikan waktu untuk 'belajar' dan kemudian diharapkan dari proses belajarnya, sistem bisa memberikan solusi dari suatu kasus. Analoginya seperti mengajarkan seorang anak kecil untuk mengetahui bentuk kursi, kita akan menunjukan pada anak tersebut berbagai macam bentuk kursi dan bukan kursi.
Kita akan memperlihatkan mana saja yang termasuk kursi dan mana yang bukan, proses ini disebut proses training. Setelah proses training selesai, maka tiba waktunya untuk melakukan test terhadap anak tersebut dengan menunjukan suatu bentuk kursi dan menanyakan apakah itu termasuk kursi atau bukan. Hal yang menarik adalah pada saat kita menunjukan suatu bentuk kursi yang belum pernah diajarkan pada anak tersebut dan apabila itu memang variasi dari kursi (dengan ciri misalnya: kakinya ada 4, ada pegangan tangannya, bentuknya seperti angka 4, dll) maka dia dapat mengambil kesimpulan bahwa benda tersebut adalah kursi, apabila jawaban si anak salah maka kita kembali melatihnya (proses training) dengan memasukan bentuk kursi yang baru tadi kedalam data latih, sehingga si anak dapat mengambil kesimpulan bahwa benda tersebut (dan yang mirip benda tersebut dimasa yang akan datang) adalah kursi.
Jaringan saraf buatan banyak digunakan untuk mengklasifikasikan dan identifikasi sesuatu. Dengan input yang diberikan kepada system, maka system akan mempelajarinya dan pada akhirnya system akan memprediksikan solusi yang terbaik. Dengan model ini maka system akan dapat memecahkan variasi masalah yang belum pernah ditemui.
Aplikasi Jaringan Saraf Buatan pada Fase Pengolahan Bahan
Pada pengolahan bahan ini penulis akan menyajikan mengenai gambaran model penentuan waktu pengangkatan pada proses penggorengan di industri pengolahan kripik. Kripik merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang terbuat dari bahan umbi-umbian (dapat berupa singkong, ubi jalar, kentang, talas, dll).
Dalam melakukan pengolahan bahan menjadi kripik terdapat salah satu proses yang cukup penting yaitu poses penggorengan. Dalam proses penggorengan kita harus mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggoreng bahan agar didapatkan hasil yang baik.
Untuk skala kecil memang cukup mudah untuk menentukan waktu pengangkatan, itupun dilakukan atas dasar kira-kira atau berdasarkan pengalaman. Namun untuk skala industri hal tersebut tidak bisa dilakukan. Karena konsumen menginginkan produk yang terbaik.Untuk itu kita akan mencoba membuat model dasar penentuan waktu pengangkatan pada proses penggorengan kripik.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa dalam permodelan jaringan saraf buatan harus ada berupa input yang akan menjadi bahan pembelajaran bagi system baru akan dihasilkan output berupa perkiraan.
Dalam hal ini kita akan memasukkan contoh input dan output,kemudian system akan mempelajari dan akan dapat menghasilkan output berupa solusi.Kematangan merupakan fungsi dari tebal irisan, kadar air, warna, jenis bahan, suhu, dan jumlah bahan. Atau dapat dituliskan
Kematangan = f(Tebal Irisan,Kadar Air,Warna,Jenis Bahan,Suhu,Jumlah Bahan)
Sebagai contoh:
Input X-1 = Tebal irisan 0,3-0,5 mm
Output Y-1= 15 menit
Input X-2 = Kadar Air 20%
Output Y-2= 10 menit
Input X-3 = Warna Kuning
Output Y-3= 11 menit
Input X-4 = Jenis Bahan Singkong
Output Y-4= 14 menit
Input X-5 = Suhu 160-170oC
Output Y-5=10 menit
Input X-6 = Jumlah bahan 1kg
Output Y-6= 10 menit
Contoh diatas hanyalah contoh sebagian kecil input yang harus dipelajari. Contoh input dan output dapat diibaratkan dendrit atau dalam bahasa yang seharusnya disebut dengan node.Node akan dikirimkan ke neuron kemudian dipelajari untuk menghasilkan perkiraan waktu pengangkatan bahan.
Dengan sendirinya system akan dapat memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk melakukan pengangkatan agar didapatkan hasil yang optimum. Otak manusia akan dapat memperkirakan sesuatu lebih akurat apabila terdapat banyak contoh. Begitu juga dengan jaringan saraf buatan. Semakin banyak contoh yang diberikan pada system, maka tingkat akurasi akan semakin tinggi
Pada saat system menangkap paket yang terdapat pada salah satu contoh melalui IDS (instruction Detection System), maka IDS akan memberikan signal untuk segera melakukan pengangkatan. Namun tidak ada sesuatu yang sempurna. Hasil berupa solusi yang diberikan tidak selamanya benar namun hanya perkiraan yang tingkat akurasinya dipengaruhi oleh banyaknya input yang diberikan.
Diharapkan dengan model dasar ini maka kita tidak perlu memperkirakan kapan waktu pengangkatan dilaksanakan. Karena system akan melakukan perhitungan sendiri. Model ini layak diterapkan karena :
Handal. Jaringan Syaraf Tiruan adalah teknik pemodelan yang sangat memuaskan yang dapat membuat model suatu fungsi yang sangat kompleks. Khususnya Jaringan Syaraf Tiruan nonlinear. Sejak beberapa tahun, model linear umumnya digunakan dimana model linear dikenal dengan strategi optimasi. Jaringan Syaraf Tiruan juga menggunakan model nonlinear dengan berbagai variabel.
Mudah digunakan. Jaringan Syaraf Tiruan dipelajari dengan contoh. Pengguna Jaringan Syaraf Tiruan mengumpulkan data dan melakukan pembelajaran algoritma untuk mempelajari secara otomatis struktur data, sehingga pengguna tidak memerlukan pengetahuan khusus mengenai bagaimana memilih dan mempersiapkan data, bagaimana memilih Jaringan Syaraf Tiruan yang tepat, bagaimana membaca hasil, tingkatan pengetahuan yang diperlukan untuk keberhasilan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan tidak lebih dari pemecahan masalah yang menggunakan metode statistik nonlinear yang telah dikenal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Model Jaringan Saraf Buatan adalah metode yang digunakan untuk memecahkan suatu kasus yang dibangun menyerupai cara kerja otak manusia
2. Tingkat akurasi tergantung pada banyaknya contoh yang diberikan untuk dipelajari
3. Model jaringan saraf buatan lebih mudah digunakan dibandingkan dengan system komputer konvensional
Saran
Diharapkan akan ada penelitian lebih lanjut mengenai proses pemrogramannya ke dalam komputer sehingga akan terasa manfaatnya.
DAFTAR PUSTAKA
PENGEMBANGAN DAN KONSERVASI LAHAN GAMBUT
Ulung Pamungkas
Program Studi Teknik Pertanian
Jurusan Teknologi Pertanian
Universitas Sriwijaya
Pendahuluan
Dewasa ini lahan gambut merupakan lahan alternatif yang digunakan sebagai media untuk melakukan aktivitas di bidang pertanian. Mengingat lahan pertanian yang biasa digunakan jumlahnya semakin sempit seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Lahan gambut adalah lahan yang terbentuk dari proses dekomposisi tanaman atau serasah organik secara anaerobik(Ernawati Nur Khusnul Chotimah : 2002). Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 %, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 cm. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang dari 50 cm disebut lahan bergambut.Di Indonesia terdapat sekitar 26 juta lahan gambut yang tersebar di luar pulau jawa dengan rincian sebagai berikut
- Pulau Sumatera sebanyak 8,9 juta Ha
- Pulau kalimantan sebanyak 6,3 juta Ha
- Pulau Irian sebanyak 10,9 juta Ha
Melihat besarnya jumlah lahan gambut yang kita miliki, maka seyogyanya prospek pengembangan pertanian pada lahan gambut cukup besar. Namun permasalahannya untuk mengembangkan lahan gambut menjadi lahan yang produktif tidaklah segampang yang kita pikirkan. Banyak sekali kendala-kendala yang akan dihadapi ketika kita akan mengembangkan lahan tersebut.
Pengembangan pertanian pada lahan gambut menghadapi banyak kendala yang berkaitan dengan sifat tanah gambut. Menurut Soepardi (1979) dalam Mawardi et al, (2001), secara umum sifat kimia tanah gambut didominasi oleh asam-asam organik yang merupakan suatu hasil akumulasi sisa-sisa tanaman. Asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi tersebut merupakan bahan yang bersifat toksid bagi tanaman, sehingga mengganggu proses metabolisme tanaman yang akan berakibat langsung terhadap produktifitasnya. Sementara itu secara fisik tanah gambut bersifat lebih berpori dibandingkan tanah mineral sehingga hal ini akan mengakibatkan cepatnya pergerakan air pada gambut yang belum terdekomposisi dengan sempurna sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanaman sangat terbatas.
Lahan gambut umumnya memilki pH yang rendah, sehingga apabila kita ingin melakukan budidaya di bidang pertanian pada lahan gambut maka kita perlu menaikkan pH tanah tersebut sehingga pHnya sesuai untuk syarat hidup suatu tanaman yaitu dengan cara malakukan pengapuran
Selain itu lahan gambut merupakan penyangga ekologi terutama sebagai kawasan resapan air karena kemampuannya yang menyerupai spon. Dengan kemampuan yang ia miliki lahan gambut berfungsi mengatur air di dalam dan permukaan tanah dengan cara menyerap air yang berlebih pada saat musim penguhujan kemudian menampungnya dan melepaskannya pada saat lahan di sekitar kekurangan air secara perlahan dan kontinyu. Hal ini tentunya akan menyebabkan air akan tetap mengalir secara konsisten dan menjaga terjadinya banjir.
Mengingat karakteristik yang dimiliki oleh lahan gambut, maka tentunya dalam memanfaatkan lahan gambut kita harus ekstra hati-hati dan harus mengetahui bagaimana cara pemanfaatan yang baik agar tingkat kerusakannya dapat diminimalisasikan ketika kita melakukan aktivitas pertanian pada lahan gambut.
Pengembangan Lahan Gambut
Sejauh ini lahan gambut dimanfatkan sebagai kawasan transmigrasi.Pengembangan lahan gambut untuk budidaya pertanian sampai saat ini belum menampakkan hasil yang signifikan.Berikut adalah data permukiman transmigrasi pada lahan gambut :

sumber :www.menkokesra.com
Mungkin masih terngiang di benak kita mengenai kegagalan pengembangan lahan gambut 1 juta hektar di Pulau Kalimantan.Sebenarnya apabila dalam pengembanggannya kita memperhatikan tingkat kerusakan serta karakteristik yang dimiliki lahan gambut maka hal tersebut tidak perlu terjadi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, lahan gambut dapat dimanfaatkan sebagai lahan pengembangan tanaman hortikultura dan tanaman industri seperti padi,nanas,kelapa sawit,dll.(Ernawati Nur Khusnul Chotimah,Huston : 2002).Namun dengan catatan konservasi tetap dilaksanakan agar tingkat kerusakan lahan dapat ditekan.
Apabila kita mampu mengembangkan lahan gambut sebagai lahan yang produktif secara berkesinambungan, maka itu adalah suatu prestasi yang luar biasa. Dan ini tentunya akan memberikan suatu dorongan bagi kita untuk semakin mengembangkan pertanian yang mampu memberikan devisa bagi negara.
Konservasi Lahan Gambut
Konservasi adalah suatu cara yang digunakan untuk menggunakan Sumber Daya Alam dengan cara berkesinambungan dalam jangka yang tidak terbatas .Artinya dalam memanfaatkan lahan gambut kita harus melakukannya secara berkesinambungan.
Dalam melakukan pembukaan lahan gambut, kebanyakan para petani melakukan aktivitas pembakaran untuk menghilangkan gulma ataupun vegetasi yang menutupi lahan tersebut. Hal ini tentunya akan sangat membahayakan bagi kita. Perlu diketahui bahwasannya gambut mengandung 20 – 35 % dari semua carbon yang ada di bumi. Dan apabila dilakukan pembakaran maka karbon akan terlepas ke udara, sehingga akan menghasilkan emisi gas karbon yang dapat menghasilkan efek rumah kaca. Berarti aktivitas pembakaran lahan gambut ini akan mendukung terjadinya pemanasan global yang kerugiannya sangat besar sekali bagi kelangsungan makhluk hidup.Pembukaan lahan gambut yang baik adalah pembukaan lahan tanpa aktivitas pembakaran.
Kalaupun terpaksa dilakukan pembakaran, maka harus diperhatikan dampaknya terhadap kerusakan lingkungan. Untuk tanaman hortikultura, pembakaran seresah bisa dilakukan pada tempat yang khusus dengan ukuran 3 X 4 m. Dasar tempat pembakaran diberi lapisan tanah mineral/liat setebal 20 cm dan sekelilingnya dibuat saluran selebar 30 cm. Kedalaman saluran disesuaikan dengan kedalaman air tanah dan ketinggian air dipertahankan 20 cm dari permukaan tanah agar gambut tetap cukup basah. Ini dimaksudkan agar pada waktu pembakaran, api tidak menyebar. .
Pembalakan lahan gambut biasanya dilakukan dengan cara menggali kanal-kanal untuk mengeringkannya dan menyediakan akses-akses untuk pembalakan. Apabila dikeringkan maka akan mengakibatkan turunnya permukaan air tanah dan menghilangkan air permukaan tanah. Dan hal ini akan mengakibatkan sifat seperti spon yang dimilki oleh gambut akan menghilang.Apabila sifat ini menghilang, maka lahan gambut tidak dapat berfungsi sebagai penyangga ekologi terutama sebagai kawasan resapan air. Sehingga apabila terjadi hujan dalam intensitas yang cukup besar maka kemungkinan terjadinya banjir akan sangat besar.
Oleh sebab itu, apabila kita hendak membuat saluran irigasi untuk drainase maka drainase yang baik yaitu drainase yang tetap mempertahankan batas air kritis gambut, akan tetapi tetap tidak mengakibatkan kerugian pada tanaman. Usahakan kondisi lahan yang tergenang oleh air dengan mengadopsi tanaman sejenis hidrofilik seperti bayam dan kangkung.
Untuk menghindari penurunan permukaan tanah (subsidence) tanah gambut melalui oksidasi biokimia, permukaan tanah harus dipertahankan agar tidak gundul. Beberapa vegetasi seperti halnya rumput-rumputan atau leguminose dapat dibiarkan untuk tumbuh disekeliling tanaman kecuali pada lubang tanam pokok seperti halnya pada perkebunan kelapa sawit dan kopi. Beberapa jenis legume menjalar seperti Canavalia maritima dapat tumbuh dengan unsur hara minimum dan menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kemasaman.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam memanfaatkan lahan gambut. Dalam pengelolahan lahan gambut yang perlu dilakukan adalah memperhatikan ekosistem lahan gambut.Kita tidak boleh membuka bagian yang disebut kubah gambut. Kubah gambut adalah tumpukan serasah yang semakin bertambah
Tempat inilah merupakan tempat yang paling banyak melakukan penyerapan air. Mengingat kubah gambut memiliki kedalaman di atas rata-rata, sehingga kapasitas kemampuan untuk menyerap airnya lebih banyak. Lalu timbul pertanyaan bagian mana yang boleh dibuka?Ternyata bagian yang boleh dibuka adalah bagian kaki kubahnya saja.
Kesalahan yang dilakukan pada proyek pengembangan lahan gambut 1 juta ha adalah memotong kubah gambut sehingga kemampuannya yang menyerupai spon akan berkurang.Apabila bagian kubah ini dibuka maka tentunya lahan pun akan menjadi rusak. Apabila lahan gambut sudah rusak maka dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikannya seperti semula.
Sebenarnya, jika hutan rawa gambut diperlakukan secara baik dan benar sesuai dengan kemampuan/daya dukung lahan gambutnya, maka hasil yang diperoleh mampu memberikan sesuatu yang menjanjikan. Pengembangan perkebunan (terutama perkebunan kelapa dan kelapa sawit), serta hutan tanaman industri (hutan tanaman acacia) yang dapat dijumpai di beberapa tempat di Pantai Timur Sumatera, khususnya di Jambi dan Riau, merupakan salah satu bukti tentang keberhasilan dalam mengelola gambut Indonesia.
Pembelajaran yang diperoleh dari sini adalah bahwa pengelolaan lahan dilakukan dengan memperhatikan ekosistem lahan gambut, kubah gambut sama sekali tidak boleh dibuka. Saluran drainase pada lahan gambut harus diatur dengan sangat ketat agar mampu mempertahankan muka air, termasuk muka air tanah yang sesuai dengan kebutuhan ruang perakaran tanaman

kaki kubah
kubah gambut
Berdasar sifat inheren bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut, maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut; penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut; pengelolaan air; pendekatan pengembagan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut; peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan
Secara umum ada 3 prinsip yang digunakan dalam pemanfaatan lahan gambut:
- Pemanfaataan berkelanjutan
- Pengawetan
- Perlindungan
Daftar Pustaka
Ernawati Nur Chusnul Chotimah,Hastin.2002. Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana / S3.IPB : Bogor
PEMETAAN SUMBER DAYA LAHAN
Oleh :
Ulung Pamungkas
Program Studi Teknik Pertanian
Jurusan Teknologi Pertanian
Universitas Sriwijaya
Pendahuluan
Sumber daya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan manfaat. Sedangkan lahan diartikan sebagai bagian dari bentang alam (lanscape) yang fisik yang meliputi pengertian lingkungan fisik seperti tanah, iklim, topografi/relief, hidrologi dan vegetasi alami (natural vegetation) dimana secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan.(www.petalahan.go.id)
Jadi, Sumber daya Lahan adalah segala sesuatu yg bisa memberikan manfaat di lingkungan fisik dimana meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya (termasuk didalamnya adalah akibat kegiatan-kegiatan manusia baik masa lalu maupun masa sekarang). misal; penebangan hutan, penggunaan lahan pertanian. .(www.petalahan.go.id)
Di bidang pertanian pengetahuan mengenai sumber daya lahan sangat dibutuhkan sekali. Mengingat dengan mengetahui sumber daya lahan yang dimiliki suatu wilayah maka kita dapat mengetahui potensi lahan. Dengan mengetahui potensi yang dimiliki maka kita dapat menetukan kebijakan mengenai pengembangan pertanian untuk kedepannya.Beranjak dari sinilah maka pemetaan mengenai sumber daya lahan suatu wilayah perlu dilakukan.
Pemetaan Sumber Daya Lahan
Pemetaan sumber daya lahan didefinisikan sebagai penggambaran dua dimensi suatu wilayah dengan skala dan aturan tertentu lengkap dengan karakteristik yang dimilkinya.Adapun karakteristik yang disajikan yaitu mengenai kemiringan lereng, curah hujan, tekstur tanah, kapasitas air tersedia, kedalaman efektif dan sebagainya.(www.petalahan.go.id)
Tujuan dari pemetaan adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca dalam bentuk gambar(Materi Ilmu ukur wilayah).Tidak terkecuali pemetaan sumber daya lahan.Tujuannya yaitu untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya lahan di suatu wilayah tertentu dalam bentuk gambar.
Proses pembuatan peta lahan ini cukup rumit, karena kita harus melakukan survey secara langsung. Metode survey merupakan metode yang cukup baik untuk mendapatkan data yang valid.Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam kegiatan survey antara lain :
1. Measurement (Pengukuran)
2. Calculating (Perhitungan)
3. Drawing (Penggambaran)
Dalam Kegiatan survey inilah kita lakukan pencatatan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan karakteristik lahan tersebut. Secara umum karakteristik yang dicatat mulai dari kemiringannya, tekstur tanahnya, kemudian curah hujan diwilayah tersebut,kapasitas air yang tersedia,kedalaman efektif,dsb.Cara pengambilan data mengenai karakteristik tanah tersebut akan diuraikan di bawah ini.
Pengukuran kemiringan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar slope dan panjang slope yang dimiliki wilayah tersebut.Slope adalah perbandingan antara delta vertikal dan delta horizontal.Dengan data inilah maka kita nantinya akan mengetahui apakah wilayah tersebut dapat dijadikan sebagai lahan untuk budidaya pertanian atau tidak.Sebab secara tidak langsung data ini akan menggambarkan mengenai seberapa besar tingkat erosi yang akan terjadi apabila lahan ini kita buka. Kemudian apabila terpaksa dilakukan pembukaan lahan maka konservasi yang bagaimana yang mesti kita lakukan. Pengukuran kemiringan ini dapat menggunakan theodolit, dengan mengetahui beda tinggi wilayah tersebut maka tingkat kemiringan dapat kita tentukan.
Curah hujan adalah ukuran jumlah hujan per setuan waktu,biasanya dinyatakan dalam mm3/th(Lakitan, Benyamin :2005).Pengukuran curah hujan dilakukan dengan menggunakan alat ukur curah hujan yang berbentuk silinder dengan bagian atas terbuka(untuk menerima butiran air hujan yang jatuh)Alat ini dipasang di tempat yang terbuka, sehingga air hujan diterima langsung oleh alat iniBagian ats yang terbuka dipasang pada ketinggian 20 cm di atas permukaan tanah yang ditanami rumput agar terhindar dari percikan air dari permukaan tanah.Ketelitian alat ini mencapai 0,1 mm.Pembacaan alat dilakukan sekali sehari pada pukul 09.00 (pagi) (Lakitan, Benyamin :2005)
Agar lebih mudah maka kita bisa meminta data ini di stasiun klimatologi.Dengan data ini maka nantinya kita dapat menentukan jenis tanaman apa yang sesuai dengan lahan tersebut.Selain itu dengan data ini maka nantinya kita juga dapat memprediksikan besarnya laju erosi suatu lahan.
Data yang tidak kalah pentingnya adalah data mengenai tekstur tanah pada wilayah itu. Tekstur adalah perbandingan komposisi antara pasir, liat, dan debu (Ali Hanafiah,Kemas : 2005).Data ini diperoleh dengan cara mengambil sampel suatu tanah kemudian membawanya ke laboraturium. Metode tergampang adalah dengan menggunakan metode textur by feelling. Artinya kita cukup merasakannya dengan permukaan tangan dan menentukan teksturnya. Namun data yang diperoleh dengan metode ini kurang valid. Dan nantinya akan mempengaruhi kualitas kebenaran peta tersebut.
Dengan kata lain penentuan tekstur ini bertujuan untuk mengklasifikasikan tanah. Tanah yang memiliki jenis tertentu dikelompokkan dalam kelas yang sama. Hal ini sangat penting artinya karena tanah-tanah dengan sifat yang berbeda memerlukan pengelolaan yang berbeda pula. Jadi dengan adanya pengelompokan tanah-tanah yang sama sifatnya akan lebih mudah dalam menyusun perencanaan pertanian konvensional yang dibutuhkan masing-masing jenis tanah atau satuan tersebut (www.petalahan.go.id)
Kapasitas air tersedia adalah kemampuan air yang ditahan tanah pada kondisi kapasitas lapang hingga koefisien layu (Ali Hanafiah, Kemas : 2005).Pengukuran kapasitas air tersedia ini dilakukan di labotarorium tanah.Dengan data ini maka kita bisa mengetahui berapa kapasitas air yang tersedia di lahan tersebut. Sehingga kita bisa menentukan berapa suplai air yang harus diberikan untuk tanaman.
Kedalaman efektif dapat diartikan sebagai besarnya kedalaman akar dalam melakukan penetrasi.(Ali Hanafiah, Kemas : 2005).Pengambilan data ini dilakukan secara langsung dengan mengukur rata-rata kedalan akar dalam berpenetrasi.Dengan data ini maka kita bisa memberikan informasi mengenai berapa besar kedalaman lapisan olah.Sehingga akan membantu kita dalam menentukan jenis tanaman dan teknik penanamannya.(www.petalahan.go.id)
Setelah semua data kita peroleh maka tahapan selanjutnya adalah melakukan perhitungan baik itu menyangkut luasan, besar slope, panjang slope,kemudian kontur,curah hujan, kedalaman efektif,kapasitas lapang,dsb.
Proses terakhir adalah drawing (penggambaran). Proses penggambaran peta mempunyai aturan tertentu, tidak sembarangan.Apabila penggambarannya salah maka informasi yang akan kita berikan kepada pembacapun akan salah.Yang pertama dilakukan adalah penentuan skala.
Skala adalah perbandingan ukuran di dalam peta dengan yang sebenarnya. Setelah skala ditentukan maka kita tinggal menggambarnya.Kemudian menambahkan informasi pada legenda.Informasi yang ditambahkan adalah mengenai karakteristik lahan tersebut.Semisal untuk setiap macam kelas tanah diberi warna tertentu agar pembaca lebih mudah memahaminya.Kemudian untuk wilayah yang memiliki curah hujan tertinggi diberikan tanda,dsb.(www.petalahan.go.id)
Apabila peta ini telah dihasilkan, maka kita dapat menentukan perencanaan pertanian secara konvensional yang disesuaikan dengan sumber daya lahan dan kapasitas lahan tersebut sehingga nantinya akan dihasilkan suatu pertanian yang berkesinambungan.
Daftar Pustaka
Ali Hanafiah, Kemas.2005.Dasar-dasar Ilmu Tanah.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Lakitan, Benyamin.2005.Klimatologi Dasar.Jakarta : Rajawali Pers
Materi Ilmu Ukur Wilayah
